Copyright © Gradasi Cerah
Design by Dzignine
Selasa, 31 Desember 2013

Paripurna 2013



Akhirnya, tiba kembali saat pergantian tahun. Di blog ini setidaknya ada 12 tulisan mengenai gambaran pemikiran yang terjadi selama setahun ke belakang. Well..
Kilas balik 2103.. awal tahun 2013 diwarnai dengan pengalaman bekerja di Solo, berkelana dengan peta manual, hehe.. itu mengajari saya untuk tidak takut berpegang pada peta dan petunjuk tertulis. Memasuki bulan ke empat, saya kembali rutin hinggap di warung kopi seperti dulu lagi. Tentu saja kali ini ada perbedaan. Saya sudah lebih mengenal diri saya, sepenuhnya sadar untuk apa saya datang menghabiskan waktu disana, untuk bertemu siapa, dan keperluan apa.
Berawal dari kembalinya kebiasaan itu pula, pelajaran-pelajaran baru berdatangan, mulai dari rumitnya pertemanan, melanjutkan belajar mengenai manusia, memahami orang, menarik kembali rentang kesabaran, menguji kembali tingkat kemampuan diri dalam berjuang, termasuk pertemuan tak disangka dengan partner saya saat ini..hehe.. ^^v
Memasuki pertengahan tahun, cobaan dan kebahagian datang dan berjalan beriringan. Saya benar – benar menikmati perjalanan bulan Juni 2013 hingga akhir tahun ini. Ibarat pada awal tahun adalah penulisan soal ujian, pertengahan hingga akhir tahun ini saya mulai dan masih berproses menuliskan jawaban. Namun yang menarik dari tahun sebelumnya, di tahun ini saya merasa memiliki dan mengerti rumus-rumus untuk menyelesaikan soal – soal yang ada. Walaupun seperti ujian pada umumnya, saya belum tau apakah rumus yang saya gunakan itu benar atau tidak, tapi saya yakin akan dapat menyelesaikan soal tersebut dengan jawaban yang baik menurut saya.
Akhir Oktober 2013, gerbang baru dalam hidup saya kembali terbuka dengan perpindahan tempat kerja dari dunia media lokal ke salah satu usaha milik Negara dengan skala yang cukup besar. Jujur saja, ini masih mengejutan saya hingga sekarang. Terkadang, saya merasa masih di ambang antara sadar dan tidak sadar dalam menjalani proses keseharian di tahap pendidikan ini. Tepat saat menuliskan ini, saya berposisi di Bogor, sedang menjalani tahap pembidangan dengan karantina 3 bulan. Cukup melelahkan bagi saya yang memiliki kebiasaan “berkeliaran” setiap hari - sepanjang hari – sepanjang tahun, hehe.. ^^’
Dari cerita di atas, bisa dikatakan bahwa saya sangat bersyukur akan 2013 ini. Saya sepenuhnya bahagia dengan yang saya alami dan proses apa yang telah saya lalui, dan tentu saja hal apa yang saya raih. Di akhir tahun ini, saya merasa mengalami momen dimana saya menoleh ke belakang dan menyadari apa saja yang telah saya lalui, dan dimana saat ini saya berada. Menurut saya, perasaan paling menyenangkan mengenai akhir tahun dan evaluasinya adalah hal demikian, apalagi jika seseorang telah menempuh begitu banyak, dan merasa berjarak begitu jauh dengan dirinya di awal tahun atau tahun sebelumnya. Hal itu menandakan seseorang telah berhasil mencapai sesuatu, menjadi dirinya yang sekarang, lebih baik dan lebih berarti dalam menjalani hidupnya dibanding dulu.
Selamat tinggal 2013 J
Kamis, 28 November 2013

Manusia Langka, Katanya....

Bogor, 27 November 2013

Judul diatas saya ambil dari statement teman baik saya pagi tadi.. “Mbak, orang kayak kamu langka..” katanya..
Jadi, ini berawal dari curahan hati saya pada teman baik tersebut. Saat itu malam hari sekitar pukul 9, saya mengungkapkan marah dan rasa kesal saya.. saya mengungkapkan garis besar penyebabnya… saya mengungkapkan pula kekhawatiran yang mungkin saya alami.. dan mengharapkan masukan juga pandangannya mengenai hal tersebut. Ia pun memberikan tanggapan dan pendapatnya mengenai cerita panjang lebar itu. Hingga akhir pembicaraan, saya pun berterimakasih atas semua masukan, terutama rasa lega yang dia berikan, atas kesediannya meluangkan waktu dan menyimak dengan sabar.
Pagi hari nya, singkat cerita sesuatu yang berhubungan dengan kisah itu terjadi, dan saya hanya tertawa.. benar-benar tertawa geli.. Saya hanya merasa Tuhan benar-benar sedang bercanda dan menghibur saya. Setelah malam yang melankolis, betapa saya   marah, betapa saya sedih, tiba-tiba semua hilang.. yang tersisa hanya tawa.. lega.. dan tidak lagi saya bisa merasakan marah ataupun kesal. “Kamu aneh, Mbak.. J” kata teman baik saya.. Saya heran, “Kenapa kamu sebut saya aneh?” saya bertanya. Ia pun menjawab, “Iya Mbak, orang kayak kamu langka jaman sekarang, mulia”.
Hahaha.. maaf saya tertawa, karena rasanya saya hampir lupa bahwa ada kosakata “mulia” dalam keseharian kita. Saya kira, itu sudah hilang sejak masa SD saya. ^^’
Sadarkah kalian, betapa sering kita menggunakan kata tanpa benar-benar menyadari maknanya, atau sebaliknya, seringkali kita melakukan suatu hal tanpa ingat istilah kata nya. Dari pengalaman di atas, saya hanya melakukan hal seharusnya wajar. Eh, iya kan? Hehe..
Wajar bagi saya, bila seseorang yang marah, hendaknya tidak menyalahkan keadaan, melainkan mengoreksi diri sendiri. Wajar bagi saya, bila sepatutnya kita khawatir  jika mengalami marah atau dendam berkepanjangan. Siapa tau, itu merusak diri, merusak hati, dan akhirnya merusak pandangan kita pada berkah hidup ini. Dan ketika pagi hari saya bisa tertawa lega, senang karena amarah hilang, saya sepatutnya bahagia. Dan hal itu tak butuh waktu lama, tak butuh penjelasan rasional. Sesederhana saya lega sudah berbagi, dan karena peristiwa lucu yang terkait, saya tertawa bahagia. Semua itu terlihat sangat wajar bagi saya, namun tidak bagi teman saya. Dia bilang, itu langka.
Bisa jadi, pernyataan teman saya di atas merupakan bentuk koreksi bagi kita semua. Apakah benar, generasi masa kini menganggap hal – hal tersebut merupakan sesuatu yang langka? Bila iya, alangkah sedihnya! Saya, kita, perlu waspada mengenai hilangnya nilai – nilai macam demikian yang mungkin tanpa sadar tergerus dari diri dan lingkungan kita. Jangan sampai, bentuk perilaku dan pemikiran seseorang yang sederhana sedemikian, tergolong dalam kategori Manusia Langka.
Semoga kita senantiasa berpikiran terbuka dan tak berhenti belajar  :)






Selasa, 01 Oktober 2013

Hidup, Seputar Anggapan dan Pilihan

"kita hidup di dunia ini pada dasarnya adalah neraka. Semua sama saja. Hanya saja, kita bisa memilih di neraka mana kita mau hidup". 
Kurang lebih begitu, pernyataan yang disampaikan senior saya, Mas Ni'am.
Setelah dipikir dan dirasa, mungkin kalimat ini ada benarnya. hehe..

Memasuki Oktober 2013 ini adalah periode marak rekrutmen pegawai, terutama CPNS. Kebetulan, tahun ini negara membuka banyak sekali formasi yang disediakan untuk para pencari kerja. Saya? tentu saja ikut didalam arusnya. Hehe.. Namun kali ini, tulisan saya tidak mengarah pada soal arus mainstream, ideologi, pendirian, prinsip, atau apapun mengenai pilihan pekerjaan. Saya berbagi pengalaman tentang apa yang saya rasa dan pikirkan, itu saja :)
 
Kisah dimulai ketika suatu pagi, saat sedang bersiap berangkat ke markas (begitu saya menyebut kantor tempat saya bekerja). Saya berkarya di sebuah media televisi lokal Jogjakarta. Mungkin bagi sebagian besar masyarakat, pekerjaan ini masih "sampingan" atau dikategorikan "belum mapan". Namun bagi sebagian lagi, pekerjaan ini dianggap keren, menyenangkan, gaul, dan sebagainya. Waktunya berangkat, dan seperti biasa saya mencium tangan kedua orang tua. Kebetulan, Ibu saya sedang dalam percakapan seru di telepon (yang saya tahu) dengan saudara kembarnya. Terdengar sepintas Ibu mengucap "Iya.. itu Intan baru berangkat.. ya gitu, ndak mesti.. kadang jam segini.. kadang siang.. ya gitu lah, kaya dolan.. hehe..". Beberapa detik kemudian "iya.. kayaknya ikut juga cpns.. ya semoga... "

Saya, mungkin sebagian teman lain di luar sana, sudah terbiasa dengan tanggapan keluarga macam demikian yang mungkin terkesan menganggap pekerjaan yang kita punya ini hanya "sampingan". Keberatan? sebenarnya tidak. Sah saja, karena pada kenyataannya memang secara ekonomi tidak menggiurkan. Dan lingkungan keluarga saya masih tergolong "antik", yang masih berasumsi bahwa hidup mapan = kerja untuk instansi pemerintah. Ketika sudah bekerja di instansi negara, maka yang terbayang adalah makmur, sejahtera, bahagia.

Saya berpendapat, semua pandangan tadi benar, hanya masalah kebutuhan masing-masing orang saja. Kalau mengacu dari apa yang disampaikan senior saya, semua adalah neraka. Kita hanya memilih, mau hidup di neraka mana, yang kita rasa "lebih baik". Katakan seperti posisi saya saat ini. Saya berkarya di tempat yang memberi fleksibilitas waktu dan kbijakan yang cukup tinggi. Dibandingkan dengan teman lain yang terikat ketat oleh jam kerja dan aturan, tentu saja hidup saya adalah petikan surga. Namun dari segi pemenuhan kebutuhan hidup, tentu saja apa yang sebagian teman saya peroleh dari instansi negara cukup menggiurkan. Yap, neraka masing-masing.

Beralih ke kategori lainnya, begitupun orang yang berbisnis atau wirausaha. Bagi yang benar-benar sukses, keadaan ekonomi yang melimpah adalah surga bagi kita. Namun jangan lupa, keadaan tersebut tidak pernah didapat dengan mudah atau bahkan instan. SELALU ada proses dan pelajaran sebagai "harga" yang harus mereka bayar untuk itu. Lagi-lagi, jika bisa dibilang, ada bagian neraka lain yang dihadapi.

Neraka hidup ini tidak hanya bidang pekerjaan kok. Ini mencakup semua pilihan dalam hidup kita, termasuk keluarga, cinta, dan lain-lain. Nah, jika sudah dalam posisi demikian, kadang kita tidak punya pilihan selain harus bijak dalam mengambil langkah. Paling tidak, kita berkesempatan dan berkemampuan memilih "neraka terbaik" bagi hidup kita.
Jumat, 30 Agustus 2013

Dua Tetes Air Mata di Ujung Senja

Pernahkah kalian mengalami momen, dimana memori hati diberi jawaban atas segala pelajaran. Jawaban atas apa fungsi semua hal yang kita alami sampai saat ini. Mungkin tidak gamblang. Kalau saya bisa mengilustrasikan rasa, ada celah kecil, hangat, dan bercahaya, yang tiba-tiba bergaung dan memberikan kilas balik memori hidup. Walaupun hanya sekian detik, celah itu menunjukkan apa arti dari pengalaman dan pendirian. Celah itu menyesakkan namun melegakan. Celah itu membahagiakan, hingga mengundang dua tetes bening mengalir dari mata saya, di sela do’a penghujung senja.
Momen ini saya alami beberapa hari lalu, dengan ketakjuban yang masih terasa hingga saat ini. Betapa di umur yang sudah nyaris seperempat abad ini, saya tersadar bahwa KuasaNya sangat tidak sederhana, ajaib!
Saya berhutang rasa ini pada Partner, yang pada hari itu menggiring saya mengunjungi rumah orang tua nya, dan bertemu dengan keluarganya. Saya disambut dengan segala keramahan dan kehangatan yang sederhana. Partner saya pun hanya tersenyum, membiarkan saya membaur dan berimprovisasi sekenanya. Saya ingat betapa gugup suasana hari itu. Pengalaman hidup saya tidak banyak mengajarkan tentang ber-tatakrama pada keluarga atau yang lebih tua, terlebih dalam adat Jawa Krama. Namun, pengalaman saya mengajarkan hormat dan tulus pada siapa saja.
Bermodal demikian, saya memberanikan diri untuk mengunjungi dan memperkenalkan diri. Bersyukur, keluarganya menerima saya dengan baik. Saya berinteraksi cukup lama di rumahnya. Ukuran pertamakali berkunjung, saya menghabiskan siang sampai malam, hahaha.. Saya tidak tahu apakah kemudian itu dianggap tidak sopan dalam adat Jawa, atau bagaimana. Tapi selama disana, saya merasa nyaman dan senang.

Tiba saat magrib, dimana adzan dari masjid dekat rumah berkumandang. Partner saya mengajak untuk sholat di masjid tersebut. Dasar lingkungan yang guyub, para jama’ah disana pun menyalami saya yang notabene orang asing. Kurang lebih tiga menit, qomat berkumandang, dan kami bersiap memulai prosesi ibadah. Ditengah raka’at pertama itulah, di tengah tahap mentari yang terbenam, celah hangat tadi menyeruak, melancarkan dua tetes air air mata di ujung senja. 
Selasa, 30 Juli 2013

Kamu siapa? Aku Intan, partner baru mu :)

Dinginnya Jogja sedang hangat menjadi topik pembicaraan, keluhan, atau bahan retweet-an bagi para penduduknya.  Cuaca ini pun jadi pemicu terjadinya sakit kepala yang sekarang sedang saya alami. Disamping persiapan produksi iklan untuk divisi saya besok, yang persiapannya belum juga bisa ditinggal. Lebaran sudah dekat, hitung mundur 8 hari,  dan orang-orang  sudah bersuka ria merencakankan agenda selama liburan, kumpul keluarga, juga membeli baju atau perlengkapan serba baru.
Flashback ke beberapa hari lalu, peristiwa sederhana dan membahagiakan terjadi. Komitmen baru saya bersama seseorang terucap dan kami sepakati, untuk menuju arah yang lebih baik bersama-sama. Sederhana, tidak seperti euphoria lalu yang kata orang bagai “fireworks” atau perayaan meriah lainnya. Namun jelas ada kebahagiaan hangat yang mengalir, bukan sekedar senang disertai kegugupan. Rasa yang ingin saya bagi kebahagiaannya bersama orang-orang terdekat saya saat itu juga.
Seperti matahari yang setia hadir setiap hari menghangatkan, dan malam yang bergantian menjaga dalam kegelapan, saya ingin saling melengkapi dengan cara demikian. Kebersamaan kami sangat sehari-hari, wajar, namun penuh pelajaran.

Diantara masa Ramadhan, dinginnya cuaca Jogja, dan beberapa tanggungjawab yang harus diselesaikan, saya lega memiliki penghangat, pelengkap, dan pengisi semangat. Serupa Bumi, yang tak habis menerima dan mengolah. 
Selasa, 11 Juni 2013

Masa Senang, Masa Sedih



Sudah seharian ini Jogja mendung, bahkan hujan di beberapa area (menurut info linimasa twitter). Ini menurunkan semangat hingga 200%. Atau ini cuma saat yang tepat untuk menyalahkan cuaca atas kemalasan sehari-hari.

Beberapa waktu ini, aku merasakan perkembangan, dalam hal ini kemajuan dalam hidup teman-teman sekitar. Ujian-ujian yang dihadapi lebih rumit, lebih berat dibanding sebelumnya. Untungnya, teman-teman saya ini hebat. Seringkali persoalan dihadapi dengan senyum, kekeonyolan, dan usaha yang sungguh-sungguh. Ya, dihadapi dengan combo sikap-sikap tadi  dalam sekali waktu.

Semalam, aku membaca sebuah novel perjuangan Pamoedya AT. Beliau menceritakan bahwa bagi penulis, ketika yang dikisahkan adalah hal yang merana, penindasan, bahkan beratnya perjuangan, sebaiknya tak kehilangan keceriaan. Keceriaan atau kebahagiaan adalah hal yang wajib ada, disajikan oleh penulis. Penulis memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan adanya harapan, secercah cahaya, hadiah, ataupun kemenangan setelah perjuangan. Hal ini penting demi menjaga motivasi. Dengan petikan kebahagian ditengan kisah sedih, diharapkan jiwa pembaca tak suram.

Menghadapi ujian atau cobaan adalah setangguh-tangguhnya fase seseorang. Menyikapi dengan positif adalah sebaik-baik doa dan pengharapan yang bisa dilakukan. Masa sedih seringkali membuat kita merasa sendiri, terbebani, dan hari-hari suram. Walaupun tidak mudah, berusaha ingat bahwa kita tidak pernah sendiri, ada hari-hari baik menanti, dan bahkan selalu ada tawa ditengah cobaan yang diberikan. 

Untuk semua teman-teman yang sedang berjuang di jalannya masing-masing, Semangat ya! ^^d sukses untuk kalian.. aku senang menjadi bagian dari perjalanan kalian :’)
Jumat, 26 April 2013

"Gadis Kretek"





Novel karya Ratih Kumala ini bercerita tentang kisah cinta dalam keluarga pemilik bisnis rokok kretek. Novel ini memiliki alur waktu bolak balik,antara zaman modern ini dan era penjajahan tahun 1930-1950an. Bahasa dalam novel ini cukup mudah dimengerti, tidak menggunakan kosakata sulit ataupun kalimat yang “berat”. Novel ini dapat dijadikan bacaan yang menyenangkan di akhir minggu, atau menemani sore J Yang menarik, sebagai kelengkapan kisah cinta, novel ini pun mengisahkan sejarah pendirian industri kretek kala itu. Tokoh utama dalam novel ini bertugas menelusuri sejarah masa lalu keluarganya untuk menemukan sesosok Jeng Yah.
Menurutku pribadi,ada beberapa hal yang menarik dalam novel ini. Pertama, bagaimana si penulis meenggambarkan tipikal pengembangan bisnis keluarga, dalam hal ini pabrik kretek. Penulis memaparkan bagaimana tahapan si Ayah mendidik dan menanamkan displin pada Si Sulung selaku penerus. Selain itu, penokohan 3 karakter Mas Tegar, Mas Karim, dan Lebas yang bersifat saling melengkapi. Berdasar referensi pribadi, Mas Tegar aku sebut berkepribadian Koleris-Melankolis, Mas Karim adalah Sanguinis-Phlegmatis, serta Lebas yang Sanguinis-Melankolis.
Kenapa aku sebut demikian? Karena dalam novel ini, penulis menggambarkan Mas Tegar sebagai pemimpin utama Pabrik Kretek Djagad Raja, Penerus bisnis keluarga. Ia adalah pengambil segala keputusan, Koleris. Ia meraih semua dengan proses ketekunan yang panjang, ia memikirkan hal detil, serius, Melankolis. Kedua, Mas Karim, ditandai dengan perannya sebagai penengah antara kakak (MasTegar) dan adiknya (Lebas). Ia pun pendengar yang baik, Phlegmatis. Ia selalu menjadi penggembira,ceria,diantara situasi panas kakak adiknya yang berselisih, Sanguinis. Lebas, yang hidupnya penuh spontanitas, berwarna, mudah bergaul, Sanguinis. Disamping itu, ia seniman handal yang keras kepala mempertahankan kemauannya,melankolis. Bagiku, pemaparan penulis mengenai 3 tokoh tadi otomatis membuatku berkesimpulan demikian. Hal ini tersurat jelas. Dapat diambil pelajaran, bagaimana perbedaan karakter yang seringkali membuat ketiga tokoh terlibat keributan, namun ketika disatukan menjadi perpaduan yang sempurna.
Sementara,hal lain yg sangat menarik adalah mengenai semangat feminisme yang kental. Hal pertama yang menarik saya untuk membaca buku ini adalah bagian covernya yang menarik. Digambarkan seorang perempuan berkebaya, sedang merokok kretek. Judul bukunya pun “Gadis Kretek”. Sejak awal melihat novel ini, saya membayangkan betapa kuat dan tegarnya sosok wanita yang akan digambarkan dalam novel ini. Hal itupun terbukti dari perjalanan sejarah pabrik kretek dalam novel ini, dimana pada pilar tertentu, tokoh perempuan lah yang memiliki andil cukup besar. Bahkan mengenai kesetiaan cinta, hingga akhir novel penulis tetap menyajikan agungnya nilai cinta seorang perempuan.

Demikian kesanku mengenai buku ini. Terimakasih kepada Penulis, Mbak Ratih Kumala. :)