Copyright © Gradasi Cerah
Design by Dzignine
Kamis, 28 November 2013

Manusia Langka, Katanya....

Bogor, 27 November 2013

Judul diatas saya ambil dari statement teman baik saya pagi tadi.. “Mbak, orang kayak kamu langka..” katanya..
Jadi, ini berawal dari curahan hati saya pada teman baik tersebut. Saat itu malam hari sekitar pukul 9, saya mengungkapkan marah dan rasa kesal saya.. saya mengungkapkan garis besar penyebabnya… saya mengungkapkan pula kekhawatiran yang mungkin saya alami.. dan mengharapkan masukan juga pandangannya mengenai hal tersebut. Ia pun memberikan tanggapan dan pendapatnya mengenai cerita panjang lebar itu. Hingga akhir pembicaraan, saya pun berterimakasih atas semua masukan, terutama rasa lega yang dia berikan, atas kesediannya meluangkan waktu dan menyimak dengan sabar.
Pagi hari nya, singkat cerita sesuatu yang berhubungan dengan kisah itu terjadi, dan saya hanya tertawa.. benar-benar tertawa geli.. Saya hanya merasa Tuhan benar-benar sedang bercanda dan menghibur saya. Setelah malam yang melankolis, betapa saya   marah, betapa saya sedih, tiba-tiba semua hilang.. yang tersisa hanya tawa.. lega.. dan tidak lagi saya bisa merasakan marah ataupun kesal. “Kamu aneh, Mbak.. J” kata teman baik saya.. Saya heran, “Kenapa kamu sebut saya aneh?” saya bertanya. Ia pun menjawab, “Iya Mbak, orang kayak kamu langka jaman sekarang, mulia”.
Hahaha.. maaf saya tertawa, karena rasanya saya hampir lupa bahwa ada kosakata “mulia” dalam keseharian kita. Saya kira, itu sudah hilang sejak masa SD saya. ^^’
Sadarkah kalian, betapa sering kita menggunakan kata tanpa benar-benar menyadari maknanya, atau sebaliknya, seringkali kita melakukan suatu hal tanpa ingat istilah kata nya. Dari pengalaman di atas, saya hanya melakukan hal seharusnya wajar. Eh, iya kan? Hehe..
Wajar bagi saya, bila seseorang yang marah, hendaknya tidak menyalahkan keadaan, melainkan mengoreksi diri sendiri. Wajar bagi saya, bila sepatutnya kita khawatir  jika mengalami marah atau dendam berkepanjangan. Siapa tau, itu merusak diri, merusak hati, dan akhirnya merusak pandangan kita pada berkah hidup ini. Dan ketika pagi hari saya bisa tertawa lega, senang karena amarah hilang, saya sepatutnya bahagia. Dan hal itu tak butuh waktu lama, tak butuh penjelasan rasional. Sesederhana saya lega sudah berbagi, dan karena peristiwa lucu yang terkait, saya tertawa bahagia. Semua itu terlihat sangat wajar bagi saya, namun tidak bagi teman saya. Dia bilang, itu langka.
Bisa jadi, pernyataan teman saya di atas merupakan bentuk koreksi bagi kita semua. Apakah benar, generasi masa kini menganggap hal – hal tersebut merupakan sesuatu yang langka? Bila iya, alangkah sedihnya! Saya, kita, perlu waspada mengenai hilangnya nilai – nilai macam demikian yang mungkin tanpa sadar tergerus dari diri dan lingkungan kita. Jangan sampai, bentuk perilaku dan pemikiran seseorang yang sederhana sedemikian, tergolong dalam kategori Manusia Langka.
Semoga kita senantiasa berpikiran terbuka dan tak berhenti belajar  :)






0 komentar:

Posting Komentar