Bogor, 27 November 2013
Judul diatas
saya ambil dari statement teman baik
saya pagi tadi.. “Mbak, orang kayak kamu langka..” katanya..
Jadi, ini
berawal dari curahan hati saya pada teman baik tersebut. Saat itu malam hari
sekitar pukul 9, saya mengungkapkan marah dan rasa kesal saya.. saya
mengungkapkan garis besar penyebabnya… saya mengungkapkan pula kekhawatiran
yang mungkin saya alami.. dan mengharapkan masukan juga pandangannya mengenai
hal tersebut. Ia pun memberikan tanggapan dan pendapatnya mengenai cerita
panjang lebar itu. Hingga akhir pembicaraan, saya pun berterimakasih atas semua
masukan, terutama rasa lega yang dia berikan, atas kesediannya meluangkan waktu
dan menyimak dengan sabar.
Pagi hari nya,
singkat cerita sesuatu yang berhubungan dengan kisah itu terjadi, dan saya
hanya tertawa.. benar-benar tertawa geli.. Saya hanya merasa Tuhan benar-benar
sedang bercanda dan menghibur saya. Setelah malam yang melankolis, betapa
saya marah, betapa saya sedih,
tiba-tiba semua hilang.. yang tersisa hanya tawa.. lega.. dan tidak lagi saya
bisa merasakan marah ataupun kesal. “Kamu aneh, Mbak.. J” kata teman baik saya.. Saya
heran, “Kenapa kamu sebut saya aneh?” saya bertanya. Ia pun menjawab, “Iya
Mbak, orang kayak kamu langka jaman sekarang, mulia”.
Hahaha.. maaf
saya tertawa, karena rasanya saya hampir lupa bahwa ada kosakata “mulia” dalam
keseharian kita. Saya kira, itu sudah hilang sejak masa SD saya. ^^’
Sadarkah kalian,
betapa sering kita menggunakan kata tanpa benar-benar menyadari maknanya, atau
sebaliknya, seringkali kita melakukan suatu hal tanpa ingat istilah kata nya. Dari
pengalaman di atas, saya hanya melakukan hal seharusnya wajar. Eh, iya kan?
Hehe..
Wajar bagi saya,
bila seseorang yang marah, hendaknya tidak menyalahkan keadaan, melainkan
mengoreksi diri sendiri. Wajar bagi saya, bila sepatutnya kita khawatir jika mengalami marah atau dendam
berkepanjangan. Siapa tau, itu merusak diri, merusak hati, dan akhirnya merusak
pandangan kita pada berkah hidup ini. Dan ketika pagi hari saya bisa tertawa
lega, senang karena amarah hilang, saya sepatutnya bahagia. Dan hal itu tak
butuh waktu lama, tak butuh penjelasan rasional. Sesederhana saya lega sudah
berbagi, dan karena peristiwa lucu yang terkait, saya tertawa bahagia. Semua
itu terlihat sangat wajar bagi saya, namun tidak bagi teman saya. Dia bilang,
itu langka.
Bisa jadi,
pernyataan teman saya di atas merupakan bentuk koreksi bagi kita semua. Apakah
benar, generasi masa kini menganggap hal – hal tersebut merupakan sesuatu yang
langka? Bila iya, alangkah sedihnya! Saya, kita, perlu waspada mengenai
hilangnya nilai – nilai macam demikian yang mungkin tanpa sadar tergerus dari
diri dan lingkungan kita. Jangan sampai, bentuk perilaku dan pemikiran
seseorang yang sederhana sedemikian, tergolong dalam kategori Manusia Langka.
Semoga kita
senantiasa berpikiran terbuka dan tak berhenti belajar :)

0 komentar:
Posting Komentar