"kita hidup di dunia ini pada dasarnya adalah neraka. Semua sama saja. Hanya saja, kita bisa memilih di neraka mana kita mau hidup".
Kurang lebih begitu, pernyataan yang disampaikan senior saya, Mas Ni'am.
Setelah dipikir dan dirasa, mungkin kalimat ini ada benarnya. hehe..
Memasuki Oktober 2013 ini adalah periode marak rekrutmen pegawai, terutama CPNS. Kebetulan, tahun ini negara membuka banyak sekali formasi yang disediakan untuk para pencari kerja. Saya? tentu saja ikut didalam arusnya. Hehe.. Namun kali ini, tulisan saya tidak mengarah pada soal arus mainstream, ideologi, pendirian, prinsip, atau apapun mengenai pilihan pekerjaan. Saya berbagi pengalaman tentang apa yang saya rasa dan pikirkan, itu saja :)
Setelah dipikir dan dirasa, mungkin kalimat ini ada benarnya. hehe..
Memasuki Oktober 2013 ini adalah periode marak rekrutmen pegawai, terutama CPNS. Kebetulan, tahun ini negara membuka banyak sekali formasi yang disediakan untuk para pencari kerja. Saya? tentu saja ikut didalam arusnya. Hehe.. Namun kali ini, tulisan saya tidak mengarah pada soal arus mainstream, ideologi, pendirian, prinsip, atau apapun mengenai pilihan pekerjaan. Saya berbagi pengalaman tentang apa yang saya rasa dan pikirkan, itu saja :)
Kisah dimulai ketika suatu pagi, saat sedang bersiap berangkat ke markas (begitu saya menyebut kantor tempat saya bekerja). Saya berkarya di sebuah media televisi lokal Jogjakarta. Mungkin bagi sebagian besar masyarakat, pekerjaan ini masih "sampingan" atau dikategorikan "belum mapan". Namun bagi sebagian lagi, pekerjaan ini dianggap keren, menyenangkan, gaul, dan sebagainya. Waktunya berangkat, dan seperti biasa saya mencium tangan kedua orang tua. Kebetulan, Ibu saya sedang dalam percakapan seru di telepon (yang saya tahu) dengan saudara kembarnya. Terdengar sepintas Ibu mengucap "Iya.. itu Intan baru berangkat.. ya gitu, ndak mesti.. kadang jam segini.. kadang siang.. ya gitu lah, kaya dolan.. hehe..". Beberapa detik kemudian "iya.. kayaknya ikut juga cpns.. ya semoga... "
Saya, mungkin sebagian teman lain di luar sana, sudah terbiasa dengan tanggapan keluarga macam demikian yang mungkin terkesan menganggap pekerjaan yang kita punya ini hanya "sampingan". Keberatan? sebenarnya tidak. Sah saja, karena pada kenyataannya memang secara ekonomi tidak menggiurkan. Dan lingkungan keluarga saya masih tergolong "antik", yang masih berasumsi bahwa hidup mapan = kerja untuk instansi pemerintah. Ketika sudah bekerja di instansi negara, maka yang terbayang adalah makmur, sejahtera, bahagia.
Saya berpendapat, semua pandangan tadi benar, hanya masalah kebutuhan masing-masing orang saja. Kalau mengacu dari apa yang disampaikan senior saya, semua adalah neraka. Kita hanya memilih, mau hidup di neraka mana, yang kita rasa "lebih baik". Katakan seperti posisi saya saat ini. Saya berkarya di tempat yang memberi fleksibilitas waktu dan kbijakan yang cukup tinggi. Dibandingkan dengan teman lain yang terikat ketat oleh jam kerja dan aturan, tentu saja hidup saya adalah petikan surga. Namun dari segi pemenuhan kebutuhan hidup, tentu saja apa yang sebagian teman saya peroleh dari instansi negara cukup menggiurkan. Yap, neraka masing-masing.
Beralih ke kategori lainnya, begitupun orang yang berbisnis atau wirausaha. Bagi yang benar-benar sukses, keadaan ekonomi yang melimpah adalah surga bagi kita. Namun jangan lupa, keadaan tersebut tidak pernah didapat dengan mudah atau bahkan instan. SELALU ada proses dan pelajaran sebagai "harga" yang harus mereka bayar untuk itu. Lagi-lagi, jika bisa dibilang, ada bagian neraka lain yang dihadapi.
Neraka hidup ini tidak hanya bidang pekerjaan kok. Ini mencakup semua pilihan dalam hidup kita, termasuk keluarga, cinta, dan lain-lain. Nah, jika sudah dalam posisi demikian, kadang kita tidak punya pilihan selain harus bijak dalam mengambil langkah. Paling tidak, kita berkesempatan dan berkemampuan memilih "neraka terbaik" bagi hidup kita.
Saya, mungkin sebagian teman lain di luar sana, sudah terbiasa dengan tanggapan keluarga macam demikian yang mungkin terkesan menganggap pekerjaan yang kita punya ini hanya "sampingan". Keberatan? sebenarnya tidak. Sah saja, karena pada kenyataannya memang secara ekonomi tidak menggiurkan. Dan lingkungan keluarga saya masih tergolong "antik", yang masih berasumsi bahwa hidup mapan = kerja untuk instansi pemerintah. Ketika sudah bekerja di instansi negara, maka yang terbayang adalah makmur, sejahtera, bahagia.
Saya berpendapat, semua pandangan tadi benar, hanya masalah kebutuhan masing-masing orang saja. Kalau mengacu dari apa yang disampaikan senior saya, semua adalah neraka. Kita hanya memilih, mau hidup di neraka mana, yang kita rasa "lebih baik". Katakan seperti posisi saya saat ini. Saya berkarya di tempat yang memberi fleksibilitas waktu dan kbijakan yang cukup tinggi. Dibandingkan dengan teman lain yang terikat ketat oleh jam kerja dan aturan, tentu saja hidup saya adalah petikan surga. Namun dari segi pemenuhan kebutuhan hidup, tentu saja apa yang sebagian teman saya peroleh dari instansi negara cukup menggiurkan. Yap, neraka masing-masing.
Beralih ke kategori lainnya, begitupun orang yang berbisnis atau wirausaha. Bagi yang benar-benar sukses, keadaan ekonomi yang melimpah adalah surga bagi kita. Namun jangan lupa, keadaan tersebut tidak pernah didapat dengan mudah atau bahkan instan. SELALU ada proses dan pelajaran sebagai "harga" yang harus mereka bayar untuk itu. Lagi-lagi, jika bisa dibilang, ada bagian neraka lain yang dihadapi.
Neraka hidup ini tidak hanya bidang pekerjaan kok. Ini mencakup semua pilihan dalam hidup kita, termasuk keluarga, cinta, dan lain-lain. Nah, jika sudah dalam posisi demikian, kadang kita tidak punya pilihan selain harus bijak dalam mengambil langkah. Paling tidak, kita berkesempatan dan berkemampuan memilih "neraka terbaik" bagi hidup kita.

0 komentar:
Posting Komentar