Pernahkah kalian
mengalami momen, dimana memori hati diberi jawaban atas segala pelajaran.
Jawaban atas apa fungsi semua hal yang kita alami sampai saat ini. Mungkin
tidak gamblang. Kalau saya bisa mengilustrasikan rasa, ada celah kecil, hangat,
dan bercahaya, yang tiba-tiba bergaung dan memberikan kilas balik memori hidup.
Walaupun hanya sekian detik, celah itu menunjukkan apa arti dari pengalaman dan
pendirian. Celah itu menyesakkan namun melegakan. Celah itu membahagiakan,
hingga mengundang dua tetes bening mengalir dari mata saya, di sela do’a
penghujung senja.
Momen ini saya
alami beberapa hari lalu, dengan ketakjuban yang masih terasa hingga saat ini.
Betapa di umur yang sudah nyaris seperempat abad ini, saya tersadar bahwa
KuasaNya sangat tidak sederhana, ajaib!
Saya berhutang
rasa ini pada Partner, yang pada hari itu menggiring saya mengunjungi rumah
orang tua nya, dan bertemu dengan keluarganya. Saya disambut dengan segala
keramahan dan kehangatan yang sederhana. Partner saya pun hanya tersenyum,
membiarkan saya membaur dan berimprovisasi sekenanya. Saya ingat betapa gugup
suasana hari itu. Pengalaman hidup saya tidak banyak mengajarkan tentang ber-tatakrama
pada keluarga atau yang lebih tua, terlebih dalam adat Jawa Krama. Namun, pengalaman saya mengajarkan hormat dan tulus
pada siapa saja.
Bermodal
demikian, saya memberanikan diri untuk mengunjungi dan memperkenalkan diri.
Bersyukur, keluarganya menerima saya dengan baik. Saya berinteraksi cukup lama
di rumahnya. Ukuran pertamakali berkunjung, saya menghabiskan siang sampai
malam, hahaha.. Saya tidak tahu apakah kemudian itu dianggap tidak sopan dalam
adat Jawa, atau bagaimana. Tapi selama disana, saya merasa nyaman dan senang.
Tiba saat
magrib, dimana adzan dari masjid dekat rumah berkumandang. Partner saya
mengajak untuk sholat di masjid
tersebut. Dasar lingkungan yang guyub,
para jama’ah disana pun menyalami saya yang notabene orang asing. Kurang lebih
tiga menit, qomat berkumandang, dan kami bersiap memulai prosesi ibadah.
Ditengah raka’at pertama itulah, di tengah tahap mentari yang terbenam, celah
hangat tadi menyeruak, melancarkan dua tetes air air mata di ujung senja.

0 komentar:
Posting Komentar