Copyright © Gradasi Cerah
Design by Dzignine
Jumat, 30 Agustus 2013

Dua Tetes Air Mata di Ujung Senja

Pernahkah kalian mengalami momen, dimana memori hati diberi jawaban atas segala pelajaran. Jawaban atas apa fungsi semua hal yang kita alami sampai saat ini. Mungkin tidak gamblang. Kalau saya bisa mengilustrasikan rasa, ada celah kecil, hangat, dan bercahaya, yang tiba-tiba bergaung dan memberikan kilas balik memori hidup. Walaupun hanya sekian detik, celah itu menunjukkan apa arti dari pengalaman dan pendirian. Celah itu menyesakkan namun melegakan. Celah itu membahagiakan, hingga mengundang dua tetes bening mengalir dari mata saya, di sela do’a penghujung senja.
Momen ini saya alami beberapa hari lalu, dengan ketakjuban yang masih terasa hingga saat ini. Betapa di umur yang sudah nyaris seperempat abad ini, saya tersadar bahwa KuasaNya sangat tidak sederhana, ajaib!
Saya berhutang rasa ini pada Partner, yang pada hari itu menggiring saya mengunjungi rumah orang tua nya, dan bertemu dengan keluarganya. Saya disambut dengan segala keramahan dan kehangatan yang sederhana. Partner saya pun hanya tersenyum, membiarkan saya membaur dan berimprovisasi sekenanya. Saya ingat betapa gugup suasana hari itu. Pengalaman hidup saya tidak banyak mengajarkan tentang ber-tatakrama pada keluarga atau yang lebih tua, terlebih dalam adat Jawa Krama. Namun, pengalaman saya mengajarkan hormat dan tulus pada siapa saja.
Bermodal demikian, saya memberanikan diri untuk mengunjungi dan memperkenalkan diri. Bersyukur, keluarganya menerima saya dengan baik. Saya berinteraksi cukup lama di rumahnya. Ukuran pertamakali berkunjung, saya menghabiskan siang sampai malam, hahaha.. Saya tidak tahu apakah kemudian itu dianggap tidak sopan dalam adat Jawa, atau bagaimana. Tapi selama disana, saya merasa nyaman dan senang.

Tiba saat magrib, dimana adzan dari masjid dekat rumah berkumandang. Partner saya mengajak untuk sholat di masjid tersebut. Dasar lingkungan yang guyub, para jama’ah disana pun menyalami saya yang notabene orang asing. Kurang lebih tiga menit, qomat berkumandang, dan kami bersiap memulai prosesi ibadah. Ditengah raka’at pertama itulah, di tengah tahap mentari yang terbenam, celah hangat tadi menyeruak, melancarkan dua tetes air air mata di ujung senja. 

0 komentar:

Posting Komentar