Novel karya Ratih Kumala ini bercerita tentang
kisah cinta dalam keluarga
pemilik bisnis rokok kretek. Novel
ini memiliki alur waktu bolak balik,antara zaman modern ini dan era penjajahan tahun 1930-1950an. Bahasa dalam novel
ini cukup mudah dimengerti, tidak menggunakan kosakata sulit ataupun kalimat
yang “berat”. Novel ini dapat dijadikan bacaan yang menyenangkan di akhir
minggu, atau menemani sore J
Yang menarik, sebagai kelengkapan kisah cinta, novel ini pun mengisahkan sejarah
pendirian industri kretek kala itu.
Tokoh utama dalam novel ini bertugas menelusuri
sejarah masa lalu keluarganya
untuk menemukan sesosok Jeng Yah.
Menurutku pribadi,ada beberapa hal yang menarik
dalam novel ini. Pertama,
bagaimana si penulis meenggambarkan tipikal pengembangan bisnis keluarga, dalam hal ini pabrik kretek. Penulis
memaparkan bagaimana tahapan si
Ayah mendidik dan menanamkan displin pada Si Sulung selaku penerus. Selain itu, penokohan 3 karakter Mas Tegar, Mas Karim, dan Lebas yang bersifat
saling melengkapi. Berdasar
referensi pribadi, Mas Tegar aku sebut berkepribadian Koleris-Melankolis, Mas Karim adalah
Sanguinis-Phlegmatis, serta Lebas yang
Sanguinis-Melankolis.
Kenapa aku sebut demikian? Karena dalam novel
ini, penulis menggambarkan
Mas Tegar sebagai pemimpin utama Pabrik Kretek Djagad Raja, Penerus bisnis keluarga. Ia adalah pengambil
segala keputusan, Koleris. Ia
meraih semua dengan proses
ketekunan yang panjang, ia memikirkan hal detil, serius, Melankolis.
Kedua, Mas Karim, ditandai dengan perannya
sebagai penengah antara kakak (MasTegar)
dan adiknya (Lebas). Ia pun pendengar yang baik, Phlegmatis. Ia selalu menjadi penggembira,ceria,diantara situasi
panas kakak adiknya yang
berselisih, Sanguinis. Lebas, yang
hidupnya penuh spontanitas, berwarna, mudah bergaul, Sanguinis. Disamping itu, ia seniman handal
yang keras kepala mempertahankan kemauannya,melankolis.
Bagiku, pemaparan penulis mengenai 3 tokoh tadi
otomatis membuatku berkesimpulan
demikian. Hal ini tersurat jelas. Dapat diambil pelajaran, bagaimana perbedaan
karakter yang seringkali membuat ketiga tokoh terlibat keributan, namun ketika
disatukan menjadi perpaduan yang sempurna.
Sementara,hal lain yg sangat menarik adalah
mengenai semangat feminisme
yang kental. Hal pertama yang menarik saya untuk membaca buku ini adalah bagian
covernya yang menarik. Digambarkan seorang perempuan berkebaya, sedang merokok
kretek. Judul bukunya pun “Gadis Kretek”. Sejak awal melihat novel ini, saya
membayangkan betapa kuat dan tegarnya sosok wanita yang akan digambarkan dalam
novel ini. Hal itupun terbukti dari perjalanan sejarah pabrik kretek dalam
novel ini, dimana pada pilar tertentu, tokoh perempuan lah yang memiliki andil
cukup besar. Bahkan mengenai kesetiaan cinta, hingga akhir novel penulis tetap
menyajikan agungnya nilai cinta seorang perempuan.
Demikian kesanku mengenai buku ini. Terimakasih
kepada Penulis, Mbak Ratih Kumala. :)


0 komentar:
Posting Komentar